Welcome to Angklung Web Institute (AWI)! This website is a medium of information exchange about angklung knowledge and competence, especially diatonic angklung in orchestral composition. The Father of Angklung Daeng Sutigna first created the diatonic angklung in 1938. Until now, angklung still has to face many challenges of identity to be acknowledged as one of world’s standard music instruments. One major problem is that there is no firm standard yet in constructing, tuning, forming, playing, and compositing angklung. Another problem is that until today, an angklung music community as a media of education and industrialization of the angklung music hasn’t been founded yet. Through this website we would like to ask you who have a great concern to the development of angklung to pass this piece of information to the world in order to support this developing music instrument. Through this website we would like to convey an angklung-ical activity to an angklung team or community and hopefully someday the industrialization of angklung can be realized. Last, it is our duty to raise our angklung to be appreciated just like the other world’s standard music instruments. Thank you

AWI Ultimate Product and Features

AWI Regular Product and Features



Queensland -
Komunitas Indonesia memperkenalkan alat musik angklung dalam Townsville Cultural Festival di Kota Townsville, Queensland Utara, Australia. Kegiatan yang berlangsung pada pertengahan Agustus 2017 tersebut digelar di kampus James Cook University. Disebutkan dalam situs resminya, festival ini menghadirkan lebih dari 100 penampil yang terdiri atas berbagai komunitas seperti komunitas musik, tari, sirkus dan teater.
 
Pada festival tahun ini, komunitas warga RI yang terdiri atas Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia James Cook University (PPIA JCU) dan warga Indonesia yang menetap di Townsville, berkolaborasi dengan Townsville Multicultural Supports Group (TMSG) – Strum and Giggle Group. Mereka berasal dari berbagai negara seperti Congo, Malaysia, Filipina, Welsh, Burma, Australia, Korea Selatan dan juga Indonesia. Dari kolaborasi inilah dibentuk sebuah grup bernama Harmony in Diversity yang sudah diinisiasi sejak tahun lalu. Pada tahun ini, sebanyak lebih dari 20 orang ikut tampil dalam festival yang rutin digelar sejak tahun 1995.

Read More . . .


Jakarta, CNN Indonesia 
-- Bagi masyarakat Indonesia tentu hampir semuanya mengenal angklung, alat musik khas masyarakat Sunda yang terbuat dari bambu. Cara memainkan angklung cukup mudah, dengan memegang rangka angklung dengan satu tangan, kemudian tangan yang lain digunakan untuk menggoyangkan angklung hingga tercipta bunyi. 

Namun bagaimana jika alat musik angklung ini juga perlahan mulai dikenal di wilayah Franken, Jerman?

Franken atau Franconian (Ing.) sebuah wilayah di bagian utara negara bagian Bayern, Jerman, yang penduduknya menghormati keberagaman dan terbuka akan berbagai macam latar belakang budaya yang dimiliki penduduknya. Sehingga tidak jarang jika sering diadakan acara budaya yang melibatkan seniman lokal maupun internasional dalam panggung kecil maupun besar. 

Seperti dalam acara Global Art Festival yang diselenggarakan di Kulturwerkstatt auf AEG, Nürnberg, pada 28-30 April 2017. Global art sendiri menawarkan berbagai macam pertunjukkan kreatif dari berbagai latar belakang budaya, seperti pertunjukan musik, pameran seni rupa, video-art, tari-tarian, light art, dan sebagainya.

Penampilan dari Indonesia yang diwakili oleh tim angklung IKF (Indonesicher Kulturverein Franken), cukup menarik perhatian dan mengundang tepuk tangan riuh juga pujian dari pengunjung yang memenuhi sal besar di Kulturwerkstatt. Tim angklung IKF yang juga mengenakan baju tradisional Indonesia dari berbagai daerah bahkan sudah menjadi pusat perhatian bahkan sesaat sebelum pertunjukan dimulai. 

Sebelum tim dipersilahkan mengoyang angklungnya, Vera Kordon sang Dirigen angklung, yang sekaligus menjabat sebagai ketua IKF, mempersilahkan dua pengunjung untuk mencoba membunyikan alat musik ini. Pengalaman berharga yang didapat pengunjung ini, sekaligus menjadi konsep dari Global Art yang mempersilahkan para pengunjungnya mencoba dan belajar hal baru.

Pada penampilan kali ini lagu-lagu yang dibawakan tim angklung adalah Hey Jude dari The Beatles, Lost Star yang dipopulerkan Adam Levine, juga satu lagu dalam Bahasa Jerman berjudul 99 Luftballonsdan tak ketinggalan satu lagu tradisional Indonesia Gundul-Gundul Pacul. Dengan mengawinkan modernitas dan tradisional, angklung IKF yang mengusung “heavy angklung” berhasil menarik perhatian warga Franken dan menghiasi panggung-panggung budaya di wilayah ini, karena penampilan ini bukanlah penampilan yang pertama bahkan di tahun 2017 ini. 

IKF dan tim Angklungnya dengan percaya diri akan menampilkan yang terbaik untuk mengenalkan budaya Indonesia di mata dunia dan melestarikan budaya berharga bangsa Indonesia, serta bersiap untuk menghiasi panggung-panggung budaya di wilayah Franken dan mengukuhkan angklung sebagai bagian dari warisan budaya dunia. (ded/ded)

Read More . . .

Arcandra Tahar bermain angklung. (Foto: Wicak Liputan6.com)

Liputan6.com, Jakarta Wakil Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar bermain angklung mengiringi lagu bengawan solo dan cucak rowo, bersama puluhan alumni UPN Veteran Yogyakarta. Begini gayanya.

Hal tersebut dilakukan Arcandra saat menghadiri halalbihalal alumni UPN Veteran Yogyakarta, di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Minggu (30/7/2017).

Sebelum permainan angklung dimulai, Arcandra mengaku pernah bermain angklung beberapa bulan lalu, di Istana Negara bersama para menteri Kabinet Kerja untuk menyambut tamu negara.

‎"Saya mau mencoba main angklung, rasanya beberapa bulan lalu saya main di istana, menyambut tamu negara," kata Arcandra di hadapan puluhan alumni ‎UPN Veteran Yogyakarta.

Read More . . .

Francisca dan Mathilda. (Cakrayuri Nuralam)

Liputan6.com, Jakarta - Dua mahasiswi Universitas Katolik Parahyangan, Francisca Dimitri dan Mathilda Dwi Lestari bersiap mendaki puncak Gunung Everest, Maret 2018. Keduanya akan membawa alat musik daerah khas Jawa Barat, angklung.

Francisca dan Mathilda sudah mendaki enam dari tujuh gunung tertinggi di dunia. Keenam gunung yang mereka sudah daki yakni Gunung Jaya, Aconcagua, Denali, Kilimanjaro, Elbrus, dan Vinson Massif.

Read More . . .

Pengamen angklung hadir di sudut perempatan lampu merah Yogyakarta.

Liputan6.com, Yogyakarta Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadi salah satu tujuan wisata domestik favorit banyak orang. Demi kenyamanan para wistawan yang datang, berbagai hiburan tersaji bagi wisatawan yang datang ke kota gudeg ini.


Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (sat pol PP) GBPH Yudaningrat mengatakan saat ini marak pengamen angklung yang ada di perempatan lampu merah. Hal ini tidak sesuai dengan undang-undang yang ada yaitu UU lalu lintas. Walaupun pengamen angklung ini dapat menghibur wistawan, namun harus diatur demi kenyamanan dan ketertiban. Termasuk bagi gepeng, pengemis yang ada di sekitar persimpangan lampu merah.

Read More . . .

Pertunjukan musik tradisional di Indonesia Street Bukit Bintang Fiesta 2017. (Kurnia/detikTravel)

Kuala Lumpur - Pertunjukan musik tradisional Indonesia menjadi bagian dari Indonesia Street Bukit Bintang Fiesta 2017. Alunan musik itu pun bikin acara makin meriah.

Indonesia Street Bukit Bintang Fiesta 2017 berlangsung mulai hari ini hingga 22 Mei 2017 di Pavilion Kuala Lumpur, Bukit Bintang, Kuala Lumpur, Malaysia. Di hari pertama kegiatan ini, pertunjukan musik tradisional diadakan di panggung utama area pameran di atrium mal.

Read More . . .

KELOMPOK musik angklung Keluarga Paduang Angklung SMA Negeri 3 Bandung yang menggelar konser Orkestrasi Angklung XI bertajuk “Negeriku Indonesia Permata Khatulistiwa”, Sabtu (17/8/2013) malam di Teater Tertutup Balai Pengelolaan Taman Budaya Jawa Barat (Dago Tea House). RETNO HY/PRLM

BANDUNG, (PRLM).- Menandai eksistensi sebagai kelompok musik angklung Keluarga Paduan Angklung SMA Negeri 3 Bandung kembali menggelar konser musik angklung dalam kemasan orkestrasi. Konser Orkestrasi Angklung XI bertajuk “Negeriku Indonesia Permata Khatulistiwa”, Sabtu (17/8/2013) malam bertempat di Teater Tertutup Balai Pengelolaan Taman Budaya Jawa Barat (Dago Tea House) terbagi dalam dua sesi pertunjukan.

Read More . . .

Liputan6.com, Jakarta Angklung ternyata bukan hanya ada di Jawa Barat, alat musik bambu ini juga ada pada masyarakat bagian timur Jawa yang dikenal dengan nama Angklung Caruk. Demi menjaga eksistensi alat musik tradisional yang makin tersisih ini, Kementerian Pariwisata dan Pemkab Banyuwangi akan menggelar Festival Angklung Caruk pada 24-25 Februari 2017.

Terkait hal ini, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, menurut informasi yang diterima Liputan6.com, Rabu (15/2/2017) mengatakan, “Angklung Caruk khas Banyuwangi. Yang penasaran, silakan datang ke Banyuwangi. Akan ada banyak atraksi keren yang bisa dinikmati sepanjang 24-25 Februari 2017.”

Read More . . .

Ilustrasi: para wisatawan asing ikut bermain angklung.(KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO)BRISBANE, KOMPAS.com - Todd Shone bukan pengusaha Australia biasa. Ia juga pencinta berat Indonesia. Baru-baru ini ia membawa 7.000 angklung dari Jawa Barat ke Adelaide. Dan angklung ini membahana di udara Sabtu (13/09/14) malam di arena Royal Adelaide Show 2014.

Ribuan pengunjung pameran hasil pertanian ini menyambut dengan gegap gempita. Di tangan 6.100 pemain Australia dan Indonesia, konser angklung ini diharapkan memecahkan rekor dunia.

Keputusan Guinness World Records masih ditunggu, menurut siaran pers KBRI Canberra yang diterima Kompas.com. Sebelumnya, rekor konser angklung terbesar dipegang Washington, Amerika Serikat, ketika 5.182 anggota masyarakat memainkan angklung pada 9 Juli 2011.

Read More . . .

NURYANI/PRLM MUSIK angklung yang ditampilkan mahasiswa Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (FPIPS) Universitas Pendidikan Indonesia menjadi salah satu pertunjukkan pada malam penutupan Chingay Festival 2012 di Singapura, Minggu (5/2) malam.*

NURYANI/PRLM MUSIK angklung yang ditampilkan mahasiswa Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (FPIPS) Universitas Pendidikan Indonesia menjadi salah satu pertunjukkan pada malam penutupan Chingay Festival 2012 di Singapura, Minggu (5/2) malam.*

SINGAPURA,(PRLM).-Suguhan musik angklung yang ditampilkan mahasiswa Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (FPIPS) Universitas Pendidikan Indonesia menjadi salah satu pertunjukkan pada malam penutupan Chingay Festival 2012 di Singapura, Minggu (5/2) malam.

Read More . . .