Welcome to Angklung Web Institute (AWI)! This website is a medium of information exchange about angklung knowledge and competence, especially diatonic angklung in orchestral composition. The Father of Angklung Daeng Sutigna first created the diatonic angklung in 1938. Until now, angklung still has to face many challenges of identity to be acknowledged as one of world’s standard music instruments. One major problem is that there is no firm standard yet in constructing, tuning, forming, playing, and compositing angklung. Another problem is that until today, an angklung music community as a media of education and industrialization of the angklung music hasn’t been founded yet. Through this website we would like to ask you who have a great concern to the development of angklung to pass this piece of information to the world in order to support this developing music instrument. Through this website we would like to convey an angklung-ical activity to an angklung team or community and hopefully someday the industrialization of angklung can be realized. Last, it is our duty to raise our angklung to be appreciated just like the other world’s standard music instruments. Thank you

AWI Ultimate Product and Features

AWI Regular Product and Features

Kapan lagi ada event lomba festival musik angklung CASH BACK !!! ..... kapan lagi lomba yang biaya pendaftarannya dikembalikan lagi beserta bonus untuk setiap peserta sebagai cash back langsung saat pentas !!!! ... EVERYBODY WIN EVERYBODY HAPPY !!! .... hanya ada di AWI !!! ...

https //www.facebook.com/events/189126764903984/?active_tab=about

Form Pendaftaran Tim Angklung :
http //www angklungwebinstitute.com registration_event

Lihat listing session (hari dan sesi lomba) yang akan dipilih sebelum melakukan pendaftaran.
http //www angklungwebinstitute.com listing_session

Read More . . .

ImageJAKARTA, KOMPAS.com--Ratusan sekolah dasar di Singapura dan Malaysia memiliki dan mempelajari alat musik tradisional asal Indonesia yakni, angklung dan gamelan.

Read More . . .

ImageSD Paskalis Jakarta Pusat play the tradional music Indonesia call Angklung, SD Paskalis try to resisted Indonesian tradional music, was claimed by other country.

Read More . . .

ImageYayasan Bianglala akan menggelar "Festival Angklung Bianglala Ke-4" antarsiswa SD dan SMP se-Jawa Barat, 4 Juni 2009. Festival bertempat di Teater Tertutup Taman Budaya Jabar (Dago Tea House) Kota Bandung. Informasi dan pendaftaran dapat menghubungi telf. 022-2002031/2 (Eva/Heni).***

Read More . . .

Oleh : Iwan Pirous

Sentimen kebangsaan selalu membutuhkan serentetan ikon budaya kongkret. Banyak orang Indonesia yang khawatir bahkan bersikap reaktif terhadap tangkasnya negara tetangga kita Malaysia yang mengakui angklung, batik, reog sebagai kesenian nasional mereka. Kekhawatiran ini mengarah pada harapan bImageahwa negara harus kongkret melindungi kesenian khas bangsa Indonesia untuk kepentingan identitas nasional. Intinya, jika ingin mengangkat properti budaya yang khas menjadi identitas yang representatif bagi bangsa, maka syarat utamanya adalah properti tersebut harus terlibat dalam kesejarahan bangsa untuk memenuhi visi otoritas ke masa lalu, sekaligus juga populer dalam imajinasi kolektif pada waktu sekarang untuk visi masa depan. Bangsa-bangsa modern yang tangguh setia mempertahankan prinsip ini untuk lestari. Angklung adalah elemen budaya yang terlibat dalam dua gaya tarik tradisional-modern sehingga menarik diisyukan sebagai ikon bangsa yang potensial dan kongkret.

Read More . . .