Welcome to Angklung Web Institute (AWI)! This website is a medium of information exchange about angklung knowledge and competence, especially diatonic angklung in orchestral composition. The Father of Angklung Daeng Sutigna first created the diatonic angklung in 1938. Until now, angklung still has to face many challenges of identity to be acknowledged as one of world’s standard music instruments. One major problem is that there is no firm standard yet in constructing, tuning, forming, playing, and compositing angklung. Another problem is that until today, an angklung music community as a media of education and industrialization of the angklung music hasn’t been founded yet. Through this website we would like to ask you who have a great concern to the development of angklung to pass this piece of information to the world in order to support this developing music instrument. Through this website we would like to convey an angklung-ical activity to an angklung team or community and hopefully someday the industrialization of angklung can be realized. Last, it is our duty to raise our angklung to be appreciated just like the other world’s standard music instruments. Thank you

SIAP-SIAP, BANYUWANGI AKAN GELAR FESTIVAL ANGKLUNG CARUK (Liputan 6, 17 Februari 2017)

Liputan6.com, Jakarta Angklung ternyata bukan hanya ada di Jawa Barat, alat musik bambu ini juga ada pada masyarakat bagian timur Jawa yang dikenal dengan nama Angklung Caruk. Demi menjaga eksistensi alat musik tradisional yang makin tersisih ini, Kementerian Pariwisata dan Pemkab Banyuwangi akan menggelar Festival Angklung Caruk pada 24-25 Februari 2017.

Terkait hal ini, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, menurut informasi yang diterima Liputan6.com, Rabu (15/2/2017) mengatakan, “Angklung Caruk khas Banyuwangi. Yang penasaran, silakan datang ke Banyuwangi. Akan ada banyak atraksi keren yang bisa dinikmati sepanjang 24-25 Februari 2017.”

Lebih jauh dirinya mengatakan, Banyuwangi memang rajanya festival. Gelar “The Best Festival City” di Indonesia sudah diberikan Menteri Pariwisata Arief Yahya. Sepanjang tahun ini bahkan Banyuwangi telah menyiapkan 72 festival keren, salah satunya Festival Angklung Caruk. 

“Kami ingin mengenalkan angklung pada generasi muda. Kami ingin anak muda mencintai kesenian traadisionalnya,” kata Bupati Azwar Anas.

Angklung Banyuwangi sendiri memiliki ciri khas yang unik, 

yang tidak ditemukan di daerah lain. Angklung jenis ini menggunakan dudukan dan rancakan yang menjadi satu. Ada motif ular naga di atas angklung yang menampakan keindahan dan kegagahan. Untuk menambah harmonisasi irama, Angklung Banyuwangi kerap diiringi sentuhan alat musik tradisional lainnya, seperti kethuk, gong, slenthem, saron dan kluncing.

Yang membuat heboh, satu kelompok Angklung Caruk yang beranggotakan 12-25 orang beradu kreativitas dengan kelompok lainnya. Keduanya saling beradu tebak gendhing dan kepandaian memainkan alat music berlaras pelog dengan iringan sejumlah tembang Banyuwangian.

Setiap kelompok akan membawakan “larasan” yang menjadi andalan dengan seorang penari pria yang disebut Badut. Setelah selesai dan sesuai kesepakatan, maka kesempatan kelompok lain untuk melakukan hal yang sama. Pada sesi berikutnya adalah Adol Gending, yaitu saling tebak lagu. Tidak ada juri secara khusus karena penonton yang akan menentukan dan menilai kelompok mana yang lebih baik.

http://lifestyle.liputan6.com/read/2857628/siap-siap-banyuwangi-akan-gelar-festival-angklung-caruk