Welcome to Angklung Web Institute (AWI)! This website is a medium of information exchange about angklung knowledge and competence, especially diatonic angklung in orchestral composition. The Father of Angklung Daeng Sutigna first created the diatonic angklung in 1938. Until now, angklung still has to face many challenges of identity to be acknowledged as one of world’s standard music instruments. One major problem is that there is no firm standard yet in constructing, tuning, forming, playing, and compositing angklung. Another problem is that until today, an angklung music community as a media of education and industrialization of the angklung music hasn’t been founded yet. Through this website we would like to ask you who have a great concern to the development of angklung to pass this piece of information to the world in order to support this developing music instrument. Through this website we would like to convey an angklung-ical activity to an angklung team or community and hopefully someday the industrialization of angklung can be realized. Last, it is our duty to raise our angklung to be appreciated just like the other world’s standard music instruments. Thank you

PENGAMEN ANGKLUNG DI YOGYAKARTA AKAN MULAI DITERTIBKAN (Liputan 6, 8 Maret 2017)

Pengamen angklung hadir di sudut perempatan lampu merah Yogyakarta.

Liputan6.com, Yogyakarta Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadi salah satu tujuan wisata domestik favorit banyak orang. Demi kenyamanan para wistawan yang datang, berbagai hiburan tersaji bagi wisatawan yang datang ke kota gudeg ini.


Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (sat pol PP) GBPH Yudaningrat mengatakan saat ini marak pengamen angklung yang ada di perempatan lampu merah. Hal ini tidak sesuai dengan undang-undang yang ada yaitu UU lalu lintas. Walaupun pengamen angklung ini dapat menghibur wistawan, namun harus diatur demi kenyamanan dan ketertiban. Termasuk bagi gepeng, pengemis yang ada di sekitar persimpangan lampu merah.

"Peringatan sudah dua kali karena uu lalu lintas tidak boleh. Tidak boleh ada kegiatan di jalan. Walikota bupati segera menindkalanjuti penempatan pengamen angklung karena kemarin diperbolehkan oleh kepala dinas pariwisata tapi angklung bukan adat istiadat yogya," ujuarnya di kompleks Kepatihan Selasa (7/3/2017).

Gusti Yuda mengatakan pihaknya sudah memberikan saran kepada pengamen jalanan angklung ini untuk ditata oleh Bupati dan Walikota. Yogyakarta menerima semua budaya yang dari luar, namun penempatan aktifitas budaya ini juga harus sesuai dengan aturan. Sehingga pengamen angklung ini akan ditempatkan di tempat kegiatan ekeonomi di pasar, atau di area depan toko tempat wisata.

Gusti Yudo mengatakan saat ini Satuan Polisi Pamong Praja telah menegakkan perda yang ada di Pemda DIY. Anggota Sat Pol PP DIY yang berjumlah 128 orang ini selalu berkoordinasi dengan Satuan Polisi Pamong Praja kota dan kabupaten terkait pengamen angklung. Pihaknya akan segera bertemu dengan walikota dan bupati terkait keberadaan pengaman angklung di jalanan kota Yogyakarta ini.  (Yanuar H)

http://lifestyle.liputan6.com/read/2879604/pengamen-angklung-di-yogyakarta-akan-mulai-ditertibkan