Welcome to Angklung Web Institute (AWI)! This website is a medium of information exchange about angklung knowledge and competence, especially diatonic angklung in orchestral composition. The Father of Angklung Daeng Sutigna first created the diatonic angklung in 1938. Until now, angklung still has to face many challenges of identity to be acknowledged as one of world’s standard music instruments. One major problem is that there is no firm standard yet in constructing, tuning, forming, playing, and compositing angklung. Another problem is that until today, an angklung music community as a media of education and industrialization of the angklung music hasn’t been founded yet. Through this website we would like to ask you who have a great concern to the development of angklung to pass this piece of information to the world in order to support this developing music instrument. Through this website we would like to convey an angklung-ical activity to an angklung team or community and hopefully someday the industrialization of angklung can be realized. Last, it is our duty to raise our angklung to be appreciated just like the other world’s standard music instruments. Thank you

SUGUHAN ANGKLUNG TUTUP CHINGAY FESTIVAL (PikiranRakyat, 5 Februari 2012)

NURYANI/PRLM MUSIK angklung yang ditampilkan mahasiswa Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (FPIPS) Universitas Pendidikan Indonesia menjadi salah satu pertunjukkan pada malam penutupan Chingay Festival 2012 di Singapura, Minggu (5/2) malam.*

NURYANI/PRLM MUSIK angklung yang ditampilkan mahasiswa Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (FPIPS) Universitas Pendidikan Indonesia menjadi salah satu pertunjukkan pada malam penutupan Chingay Festival 2012 di Singapura, Minggu (5/2) malam.*

SINGAPURA,(PRLM).-Suguhan musik angklung yang ditampilkan mahasiswa Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (FPIPS) Universitas Pendidikan Indonesia menjadi salah satu pertunjukkan pada malam penutupan Chingay Festival 2012 di Singapura, Minggu (5/2) malam.

Dalam malam penutupan yang digelar di area perbelanjaan China Town tersebut 40 mahasiswa FPIPS UPI menampilkan medley lagu-lagu daerah Indonesia.

Alusiau, Manuk Dadali, Gundul Pacul, dan Yamko Rambe dibawakan secara apik oleh para mahasiswa. Disaksikan oleh warga Singapura dan juga turis dari berbagai negara. Suguhan angklung yang menjadi pembuka malam inagurasi tersebut mampu memukau penonton.

Bukan hanya musik angklung dan lagu daerah yang khas, kostum yang digunakan oleh mahasiswa pun mengangkat produk lokal asal Kota Tasikmalaya. Mulai dari pakaian yang merupakan perpaduan kain batik dengan aneka corak, iket kepala, sendal geulis, dan tarumpah (sendal khusus laki-laki).

Ibu walikota Hj. Rosye yang menyaksikan langsung pertunjukkan tersebut pun mengaku bangga produk-produk asli Tasikmalaya digunakan di ajang internasional seperti Chingay Parade.

"Kita akan terus mengembangkan berbagai produk khas kami termasuk dengan menembus pemasaran di sejumlah negara. Meski selama ini juga kami sudah merambah ke berbagai negara di dunia," katanya di sela-sela acara. (A-157/A-89)*